• Liputan
  • Blunder Warung Bakso Horor Jogja Selatan

    Siang itu, Google Maps sukses mengantarkan saya ke sebuah warung bakso yang lumayan luas di daerah Jogja bagian selatan. Perut sudah keroncongan, membayangkan sebutir bakso urat panas yang tenggelam dalam kuah kaldu segar. Tapi saat helm saya lepas, pemandangan di depan mata justru janggal: etalase kaca itu kosong melompong. Jangankan kepulan asap, bau daging pun tak tercium. Kawan saya, si pemilik warung, tiba-tiba muncul dari dalam dengan wajah sekuyu kain pel. Saat saya tanya apakah warungnya jadi buka, dia hanya mendesah pelan, “Hari ini nggak jadi buka. Baksonya basi.”

    Padahal, adonan segar itu baru diambil semalam dan mendekam aman di dalam freezer. Dari aroma apek bakso itulah, rentetan teror gaib di warung tersebut resmi dimulai.

    Niatnya Cari Cuan, Malah Ketemu Setan

    Membuka warung bakso dan mie ayam di Jogja sebenarnya adalah pilihan bisnis yang aman. Kuliner ini digemari semua kalangan, tak kenal waktu dari pagi sampai dini hari. Kawan saya ini sejatinya baru berniat resmi membuka warungnya di tahun 2026. Namun, karena merasa semua sudah siap, dia mencuri start lebih cepat dengan prinsip let it flow.

    Lahan yang ia sewa terhitung luas, lengkap dengan kolam ikan di bagian tengahnya. Di awal buka, dia baru mempekerjakan satu karyawan. Sialnya, belum genap sebulan berjalan, prinsip let it flow itu berubah jadi aliran teror yang membuat pemilik dan karyawannya pelan-pelan angkat tangan.

    Kembali ke soal bakso basi. Saya yang heran langsung meminta kawan saya menghidangkan bakso apek tersebut, lalu membandingkannya dengan stok bakso seminggu lalu yang juga ada di freezer. Hasilnya? Bakso yang baru dibeli semalam memang basi total, sedangkan bakso lama masih segar bugar. Aneh. Dugaan awal kami saat itu masih logis: mungkin supplier-nya yang keliru bikin adonan. Kawan saya pun memutuskan ganti supplier. Setelah diganti, warung sempat ramai dan mangkok-mangkok kotor mulai menumpuk di tempat cucian saat jam makan siang.

    Tapi, ketenangan itu cuma bertahan sekejap.

    Konser dari Antah Berantah dan Ikan yang Jadi Kayu

    Suatu sore, beberapa teman dekat datang berkunjung. Untuk menyiasati lahan luasnya, kawan saya menyediakan alat pancing di kolam tengah warung agar suasana makin asyik. Di tengah lahapnya mereka menyantap bakso, tiba-tiba sebuah erangan lirih keluar dari pengeras suara warung.

    Suasana mendadak hening. Beberapa menit kemudian, suara itu berganti menjadi senandung pelan seorang perempuan.

    “Di bukit berbunga…”

    Kalimat itu menggema jelas. Kawan saya panik dan langsung mengecek ponselnya—takut kalau-kalau fitur bluetooth-nya otomatis menyambung. Nihil. Bluetooth-nya mati, dan yang lebih bikin merinding: pengeras suara itu dalam kondisi mati total tanpa aliran listrik.

    “Wah, setan lawas iki!” celetuk seorang teman yang mengenali lagu milik Uci Bing Slamet yang populer tahun 1990-an tersebut. Sejak sore itu, cap “warung bakso horor” resmi melekat.

    Teror tak berhenti di situ. Di sore yang lain, seorang kawan bernama Iman sengaja memancing di kolam untuk menghabiskan senja. Tak butuh waktu lama, Iman berhasil mendapat seekor ikan. Ia memasukkan ikan itu ke dalam jaring, lalu mengaitkannya ke sebuah kayu di pinggir kolam agar ikan tidak kabur. Menjelang Magrib, saat Iman hendak mengambil ikannya untuk dimasak, dia justru berteriak ketakutan. Jaringnya masih ada, tapi isinya bukan lagi ikan yang menggelepar, melainkan sebongkah kayu mati. Saat dilaporkan, si pemilik warung hanya tertawa dan mengira Iman sedang melucu.

    Padahal, giliran dia yang dikerjai dua hari kemudian.

    Botol Kecap Terbang dan Bisikan Pukul Tiga Pagi

    Siang itu Jogja sedang panas-panasnya. Kawan saya misuh-misuh kepada karyawannya karena seluruh stok kecap, saos, dan plastik bungkus mendadak hilang dari dapur. Putus asa setelah mencari ke segala sudut, dia duduk di meja warung sambil menenggak es teh. Saat kepalanya mendongak ke atas untuk menghalau gerah, dahinya mengernyit.

    Dia melihat bungkusan-bungkusan familier terselip di langit-langit warung, tepat di bawah genteng.

    Menggunakan tangga, dia memanjat ke atas. Benar saja, seluruh stok saos, kecap, dan plastik tertata rapi di sana. Dengan tangan gemetar, dia melakukan video call kepada Slamet—orang yang ikut membantu bisnisnya—untuk memvalidasi bahwa dia tidak sedang berhalusinasi. Slamet yang tadinya tertawa langsung terhenyak diam di seberang telepon.

    Puncaknya terjadi pada para karyawan yang tinggal di mess warung. Setiap malam, kamar mereka kerap dilempari pasir misterius dari arah kebun kosong di belakang warung yang gelap gulita.

    Hingga akhirnya, pada suatu malam menjelang pukul tiga pagi, pengeras suara warung kembali menyala dengan volume nyaring. Kali ini tidak ada lagu lawas, melainkan sebuah pertanyaan dingin dalam bahasa Jawa yang menusuk telinga semua orang yang sedang tertidur:

    “Koe meh ngekei opo neng aku?” (Kamu mau memberi apa untukku?)

    Kalimat itu seketika merenggut sisa keberanian yang mereka miliki. Di bawah kegelapan malam Jogja selatan, kawan saya hanya bisa diam membatu di dalam kamarnya, menyadari bahwa “tamu” di warungnya sama sekali tidak berniat untuk pergi.

    Bersambung…

    Boas Sababang

    Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    4 mins