Oleh: Bos Sababang
“Komunikasi itu penting,” ujar seorang teman, suaranya memecah keheningan ruang pertemuan panitia komunitas sore itu, 21 Juni 2026. Di tangannya, selembar catatan program kerja tampak penuh coretan. Di luar ruangan, atmosfer liburan semester sedang ranum-ranumnya, namun di dalam sini, kepala kami dipaksa berputar. “Ditengah liburan ini kita tentu saja banyak hal yang perlu dipersiapkan, mulai dari persiapan kegiatan kampus, penerimaan mahasiswa baru, hingga program kita yang masih menumpuk,” sambungnya, menegaskan bahwa status mahasiswa datang bersama rentetan tanggung jawab yang tidak mengenal kata jeda.
Mendengar kalimat itu, tatapan saya justru lari ke luar jendela, merenungkan ritme hidup kami sebagai mahasiswa perantauan asal Mentawai. Di tanah rantau Yogyakarta ini, isi kepala kami tidak pernah seragam. Kami bergerak dengan kompas tujuan dan keyakinan yang saling bertolak belakang. Ada kelompok pragmatis yang datang jauh-jauh menyeberangi lautan benar-benar untuk mengejar nilai, bertaruh demi angka Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang sempurna. Namun, tidak jarang pula kita menemui mereka yang menganggap bangku kuliah sekadar panggung mampir—tempat bermain, jalan-jalan, dan menghabiskan waktu tanpa muara yang jelas.
Di tengah polarisasi motivasi tersebut, saya menyadari satu hal: merawat sebuah komunitas mahasiswa daerah bukanlah perkara membalik telapak tangan. Kegiatan komunitas memang krusial untuk menjaga denyut nadi identitas kami di perantauan, tetapi ada yang jauh lebih esensial dari sekadar rentetan proker sukses, yakni bagaimana kami bisa tetap kooperatif tanpa saling menuding dan menyalahkan saat roda organisasi mulai tersendat.
Romantisme Kedisiplinan dan Stigma yang Mengucilkan
“Setiap organisasi memang memiliki problem yang berbeda, tapi cara kita mengatasinya tidak diukur berdasarkan kesimpulan hasil, melainkan bagaimana kita sama-sama menyelesaikannya dan tidak dibebankan ke satu orang saja,” guman saya dalam hati saat rapat mulai memanas.
Komunitas idealnya lahir sebagai ruang aman untuk bertumbuh bersama, bukan panggung penghakiman untuk mengucilkan mereka yang ringkih. Sadar atau tidak, ego kolektif sering kali menjebak kita dalam arogansi moral. Ketika kita merasa telah menjadi kader yang paling tepat waktu dan paling disiplin, di saat yang sama kita sedang membangun tembok tebal yang menyudutkan teman sendiri.
“Dia selalu datang terlambat.”
Stigma usang itu begitu akrab di telinga anak-anak organisasi. “Tepat waktu” telah menjelma menjadi berhala kata yang wajib disembah tanpa kompromi. Akibatnya, ketika ada teman yang terhambat oleh realitas personalnya, mereka hanya bisa berpasrah, menelan mentah-mentah segala tuduhan dan tatapan sinis forum tanpa kita pernah sudi merunduk sejenak untuk mempertanyakan kendala mendasar apa yang sedang mereka hadapi. Kepemimpinan dalam komunitas memang menuntut ketegasan, tetapi ketegasan tanpa empati dan pemahaman interpersonal hanyalah bentuk lain dari otoritarianisme skala kecil.
Anatomi Komunikasi: Tiga Kata Penyelamat Organisasi
Hampir satu tahun lebih saya menceburkan diri dalam berbagai dinamika kegiatan kampus untuk merekam banyak pelajaran berharga. Dari perjalanan itu, saya menemukan sebuah pola sederhana: organisasi yang sehat dan dipimpin oleh sosok yang matang jarang menggunakan narasi ancaman atau tekanan. Sebaliknya, mereka menghidupkan tiga kata magis yang konstan meluncur di setiap lini massa: “Tolong, terima kasih, dan tidak apa-apa.”
Tiga kata tersebut bukanlah tanda kelemahan, melainkan jangkar psikologis yang membuat anggota merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar sekrup penggerak mesin proker. Saya ingat betul sebuah momen pelik ketika divisi kami dihantam kendala teknis yang nyaris mustahil diselesaikan sendiri. Alih-alih panik dan saling melempar batu sembunyi tangan, kami membuka sekat ego, berkoordinasi dengan divisi lain menggunakan kata “tolong”, dan beban berat itu akhirnya meluruh dengan penyelesaian yang solid.
Pada akhirnya, kita harus jujur pada hukum kausalitas organisasi. Komunikasi yang buruk sudah pasti akan melahirkan hasil yang berantakan. Sebaliknya, komunikasi yang baik memang belum tentu menjamin sebuah hasil akan seratus persen sempurna tanpa cacat. Namun, satu hal yang menjadi dogma absolut dalam dunia pergerakan mahasiswa: pada setiap hasil kerja yang baik dan berdampak luas, di belakangnya sudah pasti berdiri fondasi komunikasi yang sehat, terbuka, dan memanusiakan manusia.