Oleh Boas Sababag
Suatu pagi di pesisir Rembang, riak ombak kecil menyapu pasir basah saat seorang bayi berusia enam bulan bersiap merasakan tekstur alam untuk pertama kalinya. Namun, langkah mungil itu terhenti bukan oleh alam, melainkan oleh benteng tak kasat mata bernama “sawan”—sebuah vonis mistis dari mulut para tetua desa yang memandang pantai sebagai sarang malapetaka bagi bayi. Di sudut lain, kepanikan pecah hanya karena tangisan alami seorang anak, yang dengan cepat diredam bukan lewat dekapan hangat, melainkan lewat usapan jampi-jampi dukun atau beralih ke cara modern yang tak kalah merusak: sodoran layar gawai agar si kecil mendadak “anteng”.
Potret kontras ini menjadi panggung benturan kultural yang sengit antara ortodoksi parenting tradisional pedesaan dengan rasionalitas orang tua generasi Z. Bagi Gen Z yang tumbuh dalam limpahan literasi digital, pola asuh di desa tidak lagi dipandang sebagai kearifan luhur, melainkan akumulasi salah kaprah yang secara nyata menghambat fondasi sensorik dan motorik anak demi kenyamanan semu psikologis orang tua.
Kungkungan Dinding Mitos dan Defisit Motorik
Di banyak wilayah pedesaan Rembang, ruang gerak bayi sering kali dikerdilkan oleh indikator “sudah besar” yang kabur dan subjektif. Ketakutan kolektif terhadap dunia luar mewujud dalam rangkaian larangan mengeksplorasi alam. Bayi dilarang menyentuh tanah, pasir, dedaunan, atau rumput basah dengan dalih takut gatal, kotor, atau terkena angin malam. Padahal, telapak tangan dan kaki bayi adalah gerbang jutaan saraf sensorik yang membutuhkan stimulasi tekstur untuk mematangkan struktur otak mereka.
Dampaknya nyata. Pembatasan ini menciptakan generasi domestik yang miskin rangsangan. Kebijakan proteksi berlebih ini memaksa sejumlah orang tua Gen Z mengambil keputusan ekstrem: eksodus ke wilayah urban seperti Semarang demi menyelamatkan masa depan tumbuh kembang anak mereka dari kepungan takhayul lokal yang kontraproduktif.
Stigmatisasi Anak Aktif dan Candu Digital
Salah satu miskonsepsi paling berakar di desa adalah glorifikasi terhadap “bayi anteng”. Bayi yang pasif dan diam dipuja sebagai anak baik, sementara bayi yang aktif mengeksplorasi lingkungan dicap negatif sebagai anak yang “polahe ora umum” (berperilaku tidak wajar). Prasangka ini bahkan merambah hingga ke fase oral. Ketika seorang bayi berusia lima bulan memasukkan jemari ke mulut—sebuah mekanisme ilmiah yang sepenuhnya normal untuk mengenali objek—tangan mereka ditarik paksa oleh kerabat desa karena ketakutan tak berdasar akan tersedak (keloloden).
Ketakutan berlebih melihat bayi menangis memicu kepanikan massal di lingkungan pedesaan. Alih-alih mengevaluasi kenyamanan fisik bayi seperti suhu udara atau kejenuhan sensorik, tangisan langsung dikaitkan dengan gangguan makhluk halus. Fenomena hari ini menunjukkan pergeseran mistisisme ke pragmatisme yang cacat: gawai diberikan sejak dini sebagai pengganti peran pengasuhan. Bayi dipaksa tenang oleh stimulasi visual dosis tinggi, yang pada akhirnya memicu adiksi akut. Anak tidak lagi menangis karena lapar atau lelah, melainkan menangis histeris menuntut pemenuhan candu layar gawai.
Budaya Cegatan Sosial: Bahaya Cium Sembarangan
Kritik paling tajam dari orang tua Gen Z tertuju pada rendahnya kesadaran sanitasi dalam interaksi sosial pedesaan, khususnya tradisi mencium bayi sembarangan. Di mata masyarakat desa, bayi adalah komoditas sosial yang bebas disentuh, digendong, dan dicium oleh siapa saja sebagai ekspresi gemas. Maskulinitas toxic pedesaan sering kali memperparah kondisi ini, di mana para perokok aktif tanpa beban moral mencium pipi, hidung, hingga bibir bayi langsung setelah mengisap tembakau, tanpa mencuci tangan ataupun mengganti pakaian.
Ketika orang tua Gen Z yang terliterasi medis mencoba menegakkan batasan (boundaries) untuk melindungi sistem imun bayinya yang masih rentan, penolakan tersebut direspons dengan sinisme sosial. Label “sombong”, “keminter”, atau “terlalu pilih-pilih” segera disematkan oleh komunitas desa. Konsekuensi medis seperti penularan virus flu, infeksi bakteri, hingga paparan residu rokok (asap rokok) dianggap angin lalu dan diremehkan dengan kalimat klise: “Alah, cuma sedikit saja kok.”
Benturan ini menegaskan bahwa reformasi pola asuh di pedesaan bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan urgensi pembebasan tumbuh kembang anak dari rantai tradisi yang menghambat. Orang tua Gen Z hari ini berdiri di garis depan: melawan stigma demi memastikan anak-anak mereka tumbuh berdasarkan validasi sains, bukan kepasrahan mitos.